Gedung Pondok Pesantren

Suasana belajar

Suasana belajar

Minggu, 14 Desember 2008

Pola Asuh Efektif Pola Asuh Anak Dengan Cinta

Pola Asuh Efektif Pola Asuh Anak Dengan Cinta PDF Cetak E-mail

Pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, jadi hati-hati dalam menerapkannya. Apa, sih, pola asuh itu? Teorinya, menurut Theresia Indira Shanti, Psi.,Msi., pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Lebih jelasnya, yaitu bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berinteraksi dengan anak. Termasuk caranya menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukkan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/panutan bagi anaknya.

Sayangnya pola asuh yang diterapkan orang tua tak selamanya efektif Malah terkadang dampaknya bagi si kecil bukannya baik tapi buruk. Pola asuh yang terlalu protektif atau memanjakan anak tentu menyebabkan anak menjadi tidak kreatif atau jadi selalu tergantung pada orang lain. Makanya perlu berhati-hati menerapkan pola asuh. Perlu diingat pula pola asuh sangat menentukan pertumbuhan anak, baik dalam potensi sosial, psikomotorik, dan kemampuan afektifnya.

SYARAT POLA ASUH EFEKTIF
Jadi bagaimana pola asuh yang efektif itu? Menurut Shanti, pola asuh yang efektif bisa dilihat dari hasilnya. “Anak jadi paham kenapa harus begini atau begitu. Kenapa tak boleh ini-itu. Kelak, anak akan mampu memahami aturan-aturan di masyarakat secara lebih luas lagi. Misalnya, kalau ketemu orang harus menyapa atau bersalaman, “ ujar psikolog dari Unika Atmajaya, Jakarta ini. Nah, syarat paling utama pola asuh yang efektif adalah landasan cinta dan kasih sayang. Tapi bagaimana bentuknya? Berikut hal-hal yang bisa dilakukan orang tua demi menuju pola asuh efektif.

1. Pola asuh harus dinamis
Kenapa? Karena pola asuh harus sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebagai contoh, penerapan pola asuh untuk anak batita tentu berbeda dari pola asuh untuk anak usia sekolah. Pasalnya, kemampuan berpikir batita kan masih sederhana, jadi pola asuh harus disertai komunikasi yang tidak bertele-tele dengan bahasa yang mudah dimengerti. “Adek enggak boleh memukul Eki, karena kalau dipukul itu sakit!” Tapi anak usia SD pastilah tak mau lagi dianggap anak kecil yang bisa dilarang-larang. Jadi apa pun nilai-nilai yang ingin kita tanamkan mesti disertai dialog terbuka karena mereka sudah tak mudah didikte. Berikan alasan konkret. “Kakak, kok, nonton teve terus? “Lagi asyik nih Ma!’” “Iya, Mama tahu, tapi kalau Kakak nonton terus, nanti PR-nya enggak selesai. Terus besok di sekolah bagaimana dong?”

2. Pola asuh harus Sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak
Ini perlu dilakukan karena setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Shanti memperkirakan saat usia satu tahun, potensi anak sudah mulai dapat terlihat. Umpamanya, kala si kecil mendengarkan alunan musik, dia kok tampak lebih tertarik ketimbang anak seusianya. Bisa jadi, ia memang memiliki potensi kecerdasan musikal. Nah, kalau orang tua sudah memiliki gambaran potensi anak, maka ia perlu diarahkan dan difasilitasi. Selain pemenuhan kebutuhan fisik, orang tua pun mesti memenuhi kebutuhan psikis anak. Sentuhan-sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan penuh kasih sayang, akan membuat anak bahagia sehingga dapat membuat pribadinya berkembang dengan matang. “Kebanyakan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang, ternyata sewaktu kecil, ia mendapatkan kasih sayang dan cinta yang utuh dari orang tuanya. Artinya, kalau pola asuh orang tua membuat anak senang, tentu anak bisa berkembang secara optimal,” ujar Shanti.

3. Ayah-ibu mesti kompak
Ayah dan ibu sebaiknya menerapkan pola asuh yang sama. Dalam hal ini, kedua orang tua sebaiknya “berkompromi” dalam menetapkan nilai-nilai yang boleh dan tidak. Jangan sampai orang tua saling bersebrangan karena hanya akan membuat anak bingung.

4. Pola asuh mesti disertai perilaku positif dari orang tua
Penerapan pola asuh juga membutuhkan sikap-sikap positif dari orang tua sehingga bisa dijadikan contoh/panutan bagi anaknya. Tanamkan nilai-nilai kebaikan dengan disertai penjelasan yang mudah dipahami. Kelak diharapkan anak bisa menjadi manusia yang memiliki aturan dan norma yang baik, berbakti dan menjadi panutan bagi temannya dan orang lain.

5. Komunikasi Efektif
Bisa dikatakan komunikasi efektif merupakan sub-bagian dari pola asuh efektif. Syarat untuk berkomunikasi efektif sederhana kok, yaitu luang waktu untuk berbincang-bincang dengan anak. Jadilah pendengar yang baik dan jangan meremehkan pendapat anak. Bukalah selalu lahan diskusi tentang berbagai hal yang ingin diketahui anak. Jangan menganggap usianya yang masih belia membuatnya jadi tak tahu apa-apa. Dalam setiap diskusi, orang tua dapat memberikan saran, masukan, atau meluruskan pendapat anak yang keliru sehingga anak lebih terarah dan dapat mengembangkan potensinya dengan maksimal.

6. Disiplin
Penerapan disiplin juga menjadi bagian pola asuh. Mulailah dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, membereskan kamar sebelum berangkat sekolah atau menyimpan sesuatu pada tempatnya dengan rapi. Lantaran itu, anak pun perlu diajarkan membuat jadwal harian sehingga bisa lebih teratur dan efektif mengelola kegiatannya. Namun, penerapan disiplin mesti fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan/kondisi anak. Anak dengan kondisi lelah, umpamanya, jangan lantas diminta mengerjakan tugas sekolah hanya karena saat itu merupakan waktunya untuk belajar.

7. Orang tua Konsisten
Orang tua juga bisa menerapkan konsistensi sikap, misalnya anak tak boleh minum air dingin kalau sedang terserang batuk. Tapi kalau anak dalam keadaan sehat ya boleh-boleh saja. Dari situ ia belajar untuk konsisten terhadap sesuatu. Yang penting setiap aturan mesti disertai penjelasan yang bisa dipahami anak, kenapa ini tak boleh, kenapa itu boleh. Lama-lama, anak akan mengerti atau terbiasa mana yang boleh dan tidak. Orang tua juga sebaiknya konsisten. Jangan sampai lain kata dengan perbuatan. Misalnya, ayah atau ibu malah minum air dingin saat sakit batuk.[repro : net/roelly]

Sabtu, 13 Desember 2008

Ekpresi Cinta Eejati Orang Tua

Bagaimana Mengekspresikan Cinta Yang Mendidik?



Cinta Semu dan Cinta Sejati
Menurut kamus, hawa itu artinya keinginan, sedangkan nafsu artinya diri. Hawa nafsu adalah keinginan-diri yang bersifat pribadi, berlebihan, atau keinginan yang belum dipandu / dibimbing oleh nilai-nilai. Inilah yang dikatakan sebagai cinta semu.

Sedangkan cinta nurani adalah energi cinta yang telah mendapatkan bimbingan atau ajaran tentang kebenaran dan kebaikan. Inilah yang dikatakan sebagai cinta sejati. Semua makhluk, termasuk binatang, ditakdirkan memiliki cinta pada anaknya. Yang perlu dibedakan adalah apakah cintanya itu digerakkan oleh nafsu atau oleh nurani.

Output dari cinta semu tidak harus berupa tindakan negatif yang ekstrim buruknya. Tindakan yang menurut kita biasa, tapi ternyata bisa mendatangkan keburukan bagi perkembangan anak di masa akan datang, bisa dikatakan sebagai cinta semu. Contohnya, membelikan anak televisi yang berukuran lebih besar untuk dipasang di kamarnya supaya si Kecil bisa lebih lama dan lebih nyaman menonton tivi, bisa dikategorikan sebagai tindakan yang didasari oleh cinta semu.

Kenapa? Berbagai riset membuktikan, anak yang jam nontonnya melebihi batas normal akan terganggu perkembangan fisiknya (misalnya kegemukan atau lain-lain), emosinya (menjadi anti sosial), intelektualnya (menjadi kurang kreatif), atau mentalnya (terobsesi memiliki barang yang diiklankan) dan lain-lain.

Dua Jiwa Dalam Diri Anak
Dalam kajian psikologi sendiri terdapat dua pendapat tentang anak-anak. Pertama, anak-anak adalah makhluk penerima yang pasif. Jiwa anak (sifat, karakter, dan kepribadiannya) akan terbentuk sesuai pengaruh eksternal yang menyentuhnya. Kedua, anak adalah makhluk inisiator yang aktif. Anak bisa membentuk dirinya sendiri, bahkan sanggup mempengaruhi orang tua.

Untuk pendidikan, kita harus berkesimpulan anak itu bisa diarahkan (dibimbing) karena dia penerima. Tetapi, pada saat yang sama, kita dilarang mendikte, memaksa berlebihan, atau membatasi karena akan menghilangkan kreativitas, jiwa inisiator, dan kemandiriannya. Atau juga menuruti apa maunya, karena bisa menumpulkan daya juangnya.

Mengekspresikan Cinta Sejati
Dalam situasi yang genting, misalnya anak merengek berlebihan untuk dibelikan barang yang menurut kita kurang bermanfaat, mengekspresikan cinta kita tidak harus berupa keputusan menolak permintaannya. Tapi kita bisa bernegosiasi dengan berbagai cara dulu, antara lain:

  • Memahamkan dengan kata-kata
  • Menawarkan pengganti
  • Menunjukkan ketidaksetujuan
  • Menyepakati usulan baru yang mendidik
  • Bersabar / tidak langsung reaktif

Tentu masih banyak cara lagi. Intinya, entah itu akhirnya kita turuti atau tidak, anak perlu memahami wacana gaya hidup yang positif.

Sentuhan yang paling mendasar adalah menunjukkan keteladanan dan menjelaskannya dengan bahasa dan cara yang bisa diterima anak. Selain itu, kita juga perlu mengontrol tayangan televisi yang berpotensi memunculkan pengaruh negatif pada perilaku anak. Semoga bermanfaat.

Minggu, 07 Desember 2008

Cara Gampang buat Blog

Cara Membuat Blog di Wordpress

Wordpress adalah salah satu blog platform yang banyak digunakan saat ini, Wordpress memberikan banyak kemudahan dan kebebasan bagi blogger untuk memodifikasi dan menginstal pluggins. Mungkin ini yang menjadi salah satu faktor yang membuat Wordpress banyak disukai oleh para blogger.

Hal ini juga yang membuat aku menjadi tertarik dan penasaran apa sebenarnya perbedaan antara Wordpress dan Blogspot, dimana letak kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk mengetahuinya mari kita coba membuat blog di Wordpress.

Membuat Blog di Wordpress

Untuk mulai membuat blog di Wordpress pertama kita harus membuat account di Wordpress. Isikanlah data-data yang diminta pada form pendaftaran. Yang perlu diingat adalah alamat Email harus valid, karena melalui alamat email inilah password kita akan diberikan. Pilihan Giveme a Blog maksudnya adalah : jika kita memilih ini maka nama user yang kita gunakan akan menjadi bagian alamat URL blog kita nantinya.

Contoh jika nama user yang dimasukkan adalah namaku maka alamat URL kita nantinya menjadi namaku.wordpress.com. Jika kita memilih Just a username, please maksudnya : kita bisa mengkonfigurasi alamat URL blog secara manual nantinya.

Penting : Wordpress tidak seperti Blogspot yang memberikan kesempatan bagi kita untuk mengubah alamat URL blog, sekali alamat tersebut dibuat maka kita tidak bisa mengubahnya lagi. Karena itu pikirkanlah baik-baik dalam menentukan alamat URL ini. Tips : carilah alamat URL blog yang mudah diingat dan sesuai dengan topik dari blog. Klik tombol Next >> jika sudah menetapkan pilihan.



Setelah kita mengklik tombol Next >> Wordpress akan mengirimkan nama user dan password untuk login ke email yang kita inputkan sebelumnya. Bukalah email tersebut dan cari yang nama pengirimnya Wordpress.com, jika belum ada email tersebut tunggu beberapa saat.

Sambil menunggu kita bisa memasukkan data diri pada form yang ditampilkan selanjutnya, klik tombol Save Profile jika sudah selesai.

Sekarang lihat lagi email kamu, biasanya email yang dikirim Wordpress sudah sampai. Buka dan klik pada link yang diberikan untuk mengaktifkan account yang baru saja dibuat. Maka akan mucul tampilan yang berisi pemberitahuan bahwa account kita sudah diaktifkan.

Sekarang kita sudah bisa login menggunakan nama user dan password yang diberikan. Masukkan nama user dan password, klik tombol Login. Selanjutnya kita akan dibawa menuju halaman depan dari Wordpress.

Untuk masuk ke Dashboard carilah menu dropdown yang bertuliskan My Account. Lalu pilih Global Dashboard. Dashboard merupakan panel utama kita untuk mengatur berbagai hal yang berkaitan dengan blog.


Sekarang kita bisa mulai mengatur berbagai hal yang berhubungan dengan Blog melalui layar Dasboard ini. Dari sisi tampilan ternyata Wordpress memang lebih menyenangkan dan nyaman untuk dilihat. Ini juga yang menjadi salah satu faktor yang membuat Wordpress disukai.


Nah... menurut kamu mana yang lebih baik ? untuk menjawabnya mungkin sangat tergantung dari masing-masing pribadi. Agar lebih mengenal Wordpress kita harus belajar lebih banyak tentang Wordpress ini.

Sabtu, 06 Desember 2008

MAINAN BUAT MOBIL-MOBILAN

Sekilas Jeruk Bali (citrus maxima)

Bentuk rupa yang besar dengan penampang kulit yang tebal berwarna kuning kehijauan serta isi dagingnya yang berwarna merah dan ada pula yang berwarna putih. Rasanya manis, asam terkadang ada juga yang pahit, kandungan airnya yang banyak, ternyata memiliki manfaat yang luar biasa. Manfaat dari Jeruk Bali tersebut adalah mampu mencegah kanker, menurunkan risiko penyakit jantung, melancarkan saluran pencernaan, menjaga kesehatan kulit, menurunkan kolesterol dan mencegah anemia. Kulit Jeruk Bali yang tebal biasa dibuat orang-orang untuk manisan, rasanya enak sekali dan manis. Adakah manfaat-manfaat lainnya dari Jeruk Bali tersebut?

Mainan Anak-Anak

Mainan anak-anak saat ini jauh lebih baik dan murah dibandingkan dengan mainan anak-anak jaman dulu. Beragam mainan anak-anak yang pada umumnya terbuat dari plastik mendominasi sebesar kurang lebih 80% dari total mainan anak-anak yang ada sekarang ini. Jika dinilai dari harganya, plastik jauh lebih murah dan dapat menekan harga barang mainan. Disamping itu plastik jauh lebih elastis dan tidak mudah pecah atau retak, tergantung dari penampang dan desain plastik itu sendiri dijadikan sebuah mainan. Terpikirkah oleh anda jika plastik-plastik tersebut sudah tidak terpakai lagi? Berapa banyak sampah plastik yang akan dihasilkan dunia tiap harinya? Mampukah semua itu didaur ulang, atau mudahnya saja kebanyakan orang tinggal membuangnya tanpa berfikir dampak kedepannya.

Mainan Ramah Lingkungan

Coba anda ingat-ingat kembali kemasa kecil, pernahkah anda membuat mainan sendiri? Pernahkah anda membuatnya dari bahan tumbuh-tumbuhan yang ramah lingkungan? Saya akan coba kembali menumbuhkan ingatan anda dalam membuat mainan anak-anak dari bahan kulit Jeruk Bali. Disamping manfaat diatas, kulit Jeruk Bali dapat dibuat juga dibuat sebuah mainan anak-anak yang ramah lingkungan, disamping itu dapat menumbuhkan sifat bijak terhadap anak dalam mempergunakan barang-barang yang disediakan oleh Bumi ini. Saya akan menerangkan secara singkat bagaimana membuat mainan tersebut:

1. Belilah sebuah Jeruk Bali, lihat dan perhatikan penampang Jeruk Bali tersebut sebelum mengupasnya.
2. Buatlah tanda dengan ujung pisau sebagai arah irisan, buat dari atas hingga bawah dan jadikan 1/4 bagian dari buah tersebut.
tahap 1
3. Mulailah dengan mengiris secara perlahan (gunakan ujung pisau) atur sehingga ujung pisau hanya mengiris bagian kulitnya saja dan tidak mengiris hingga bagian dalam.
4. Bukalah irisan tersebut sehingga didapat 1/4 bagian kulit buah tersebut.
tahap 2
5. Selanjutnya belahlah 1/4 bagian tersebut dengan arah memanjang menjadi 2 bagian yang sama luasnya.
6. Salah satu bagian (kita sebut badan), potong salah satu ujungnya sehingga terlihat tumpul dan berilah lubang seperti terlihat pada gambar.
tahap 3
7. Lalu kemudian buatlah potongan bagian yang lainnya untuk membuat rodanya menjadi 2 buah, lalu berilah lubang namun jangan sampai tembus ke permukaan dibaliknya.
8. Pada bagian badan berilah lubang pada sisi ketebalannya hingga menembus sisi lainnya (seperti terlihat pada gambar), lalu berilah potongan sedotan plastik sepanjang kedalaman lubang tersebut.
tahap 4
9. Sekarang kita sudah memiliki bagian badan dan 2 buah roda, buatlah poros dengan menggunakan tusuk sate yang terbuat dari bambu (usahakan penampangnya sebulat mungkin) lalu potong sepanjang kedalaman poros ditambah 2 kali ketebalan kulit jeruk tersebut.
10. Saatnya mulai perakitan, rakitlah terlebih dahulu poros bambu masukkan kedalam lubang yang terdapat dibagian badan, baru tancapkan roda pada ujung poros kiri dan kanan bambu tersebut.
11. Berilah jarak antara roda dengan badan agar roda dapat berputar bebas.
tahap 5
12. Akhirnya kita sampai pada bagian akhir dari pembuatan mainan yang ramah lingkungan, ikatkanlah benang pada bagian badan pada ujung tumpulnya yang telah diberi lubang sebelumnya (agar lubang tidak cepat aus tergesek benang, berilah sedotan plastik pada lubang tersebut sehingga benang tidak langsung kontak dengan bagian badan tersebut).
13. Mobil-mobilan mini ini siap untuk diberikan kepada buah hati anda.
hasil akhir

Hal-hal yang harus diperhatikan:

  1. Hadirkan anak anda selama proses pembuatan mainan ini, karena yang terpenting dari mainan ini adalah proses pembuatannya sebagai bahan dasar pelajaran praktikum bagi sang anak.
  2. Jika anak anda banyak bertanya, berilah jawaban yang mudah dan masuk akal bagi sang anak.
  3. Hindari pisau dari sang anak, sebaiknya gunakan cutter sehingga apabila tidak dipergunakan bisa langsung diamankan kedlam saku anda dan tidak dijamah oleh sang anak.
  4. Ceritakanlah masa kecil anda (selama anda membuat mainan ini) kepada anak, agar mereka kelak bangga memiliki orang tua yang cerdik dan bijak.
  5. Ajak anak-anak tetangga atau teman anak anda jikalau bisa, maksudnya adalah untuk melatih sang anak bekerja dalam sebuah tim.
  6. Usahakan membuat modifikasi-modifikasi bentuk dari mainan ini, agar tradisi membuat mainan sendiri bagi sang anak berkembang dari masa ke masa. Contohnya anda bisa membuatnya menjadi 2 buah dan diberi tambatan sehingga bisa dikatakan seperti kereta atau truk gandeng, ceritakan maksud modifikasi tersebut kepada anak anda. Rangsanglah daya hayal mereka sehingga sang anak berani mengutarakan modifikasi yang ia inginkan, dan ini pertanda baik bagi anak anda.
  7. Luangkan waktu anda bersama anak anda dalam hal-hal yang bersifat merubah kebiasaan buruk pada anak anda, maksudnya adalah jadikan hal-hal seperti ini sebagai salah satu jadwal bermain sang anak (belajar sambil bermain).

Semua tergantung anda, proses mendidik anak dengan memperkenalkan tehnik sederhana merupakan awal rangsangan sang anak dalam menjamah tehnologi. Ini sifatnya tradisional namun dampaknya adalah sebuah proses mengenal tehnik manufaktur secara mini yang dapat diberikan kepada anak anda kelak didunia nyata.

Orang tua hebat

Perkembangan Kecerdasan anak. ada ditangan anda..!
Saudara… Siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap kecerdasan anaknya ? Apakah sekolah, guru, lingkungan atau pemerintah ? Bukan ! Bukan semuanya.


Yang paling bertanggung jawab terhadap kecerdasan anak Anda adalah Anda sendiri sebagai orang tua. Mengapa demikian ? Berikut beberapa alasannya :

  • Orang tua adalah "sekolah" pertama bagi kehidupan anak. Dari orang tuanya anak mendapatkan semua materi pelajaran kehidupan ini, untuk yang pertama kalinya.
  • Orang tua adalah yang paling mengetahui anaknya. Karena itulah, ia adalah orang yang paling mengerti bagaimana memaksimalkan pengembangan kecerdasannya
  • Anak menghabiskan sebagian besar waktu bersama orang tua. Karena itu, apa yang didapatkan anak dari orang tuanya akan menentukan bagaimana perkembangan kecerdasannya.
  • Masa anak adalah masa keemasan bagi perkembangan kecerdasan. Sehingga perlakukan orang tua, sangat menentukan bagaimana tingkat kecerdasannya kelak
  • Orang tua adalah pemegang amanah atas anak dari Tuhan. Karena itulah, ia menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas anaknya, termasuk dalam masalah pengembangan kecerdasannya.

Melihat begitu besarnya peran orang tua bagi perkembangan kecerdasan anak dan pendidikan anak, maka sudah selayaknya setiap orang tua memperhatikan masalah ini dengan lebih serius

Karakter Guru, Cetak Guru Karakter Siswa


GURU adalah orang yang telah memanggul tanggung jawab sebagai salah satu pembentuk karakter manusia. Dan sumbangan karakter guru termasuk yang paling kontributif. Karena pengaruh seorang guru terhadap anak didiknya hampir sebesar pengaruh orang tua terhadap anaknya. Bahkan, kadang kita sering menemui seorang anak, ketika diperintah oleh orangtuanya tidak mau mengerjakan, tetapi kalau diperintah guru dia mau mengerjakan. Walaupun hanya kasuistik, tapi itu mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangatlah besar, termasuk dalam proses pembentukan karakternya. 'Guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari' ungkapan yang sudah tidak asing bagi kita semua.

Sekolah-sekolah formal (SD, SMP dan SMA) memiliki porsi belajar yang dirancang untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup sebagai bekal hidup. Selama kurang lebih 7 jam perhari di sekolah sebagai peserta didik oleh guru. Dari 7 jam perhari itu, diharapkan karakter siswa terbangun. Baik melalui proses belajar mengajar ataupun interaksi antar civitas akademika. Tetapi jika kita amati dan sadari, ternyata dari sekian waktu interaksi antara guru dan anak didik, yang terjadi adalah proses transfer ilmu pengetahuan, bukan pada proses pembentukan karakter yang utuh. Sebagian besar waktu di kelas tersedia untuk menghabiskan target kurikulum yang diminta oleh dinas pendidikan. Sehingga ikatan emosi antara guru dengan anak didik terasa hambar. Dan bahkan, kesan ikatan yang tercipta seperti layaknya penjual dan pembeli. 'Apa yang saya berikan, harus mendapatkan imbalan yang setimpal, atau bahkan harus untung' setidaknya begitulah ekstrimnya, atau bahkan itu sudah lumrah.

Padahal setelah pulang sekolah, waktu yang dilalui seorang anak mempunyai pengaruh yang sama dengan lingkungan sekolah terhadap karakternya. Sedangkan kita semua mafhum, bahwasanya saat ini lingkungan luar sekolah memiliki sumbangan yang relatif kurang baik untuk pembentukan karakter anak. Saat ini kita akan mudah menemukan anak SMP berpacaran layaknya mahasiswa (orang dewasa). Kita akan mudah menemukan anak SMP bergaya hidup seperti orang dewasa, membentuk geng, berkonflik dengan teman hanya karena urusan cewek/cowok, dan lain-lain. Maka bukannya pesimis, tetapi jika hal ini tidak ada langkah preventif di dunia pendidikan, maka pendidikan kita hanya akan menghasilkan siswa yang pintar tetapi tidak berkarakter sebagai seorang yang terdidik. Atau bahkan lebih ironis, sudah tidak begitu pintar tidak berkarakter pula.

Sebagai orangtua, kita akan lebih senang melihat anak yang berakhlak baik, sopan, dan menghormati terhadap orang yang lebih tua. Dan kita akan lebih senang lagi kalau anak itu ternyata adalah anak yang pandai. Kalaupun ternyata tidak pandai, kita tidak mempermasalahkan. Tetapi, kita akan kecewa jika mengetahui anak yang pandai dan jenius, tetapi ternyata mempunyai akhlak yang buruk, tidak tahu tatakrama, dan sombong. Oleh sebab itu kita sudah pasti sepakat bahwa tugas pendidikan membentuk karakter kepribadian anak tidak hanya pandai akademis, tetapi juga akhlak. Tetapi bukankah di sekolah ada pelajaran yang menuntun akhlak?. Memang, akan tetapi hal itu hanya sebagian kecil terjadi. Dari struktur kurikulum kita akan tahu, berapa jumlah jam untuk mata pelajaran tersebut. Tentu sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah jam mata pelajaran yang di UNAS-kan. Dari jumlah yang sedikit itupun, proses pengikatan emosional guru dengan siswa yang terbentuk juga tidak sepenuhnya. Karena suasana kelas yang dikelola untuk mengejar target materi akan bernuansa transfer ilmu, bukan nuansa intim, harmonis, kekeluargaan. Indikator hasil belajar seperti ini akan bisa kita lihat setelah anak pulang dari sekolah. Ketika sudah keluar dari gerbang sekolah atau di luar jam sekolah ikatan antara guru dan murid seakan akan sudah terputus. Akan lebih banyak dari mereka menganggap seorang guru, hanya menjadi guru ketika di sekolah. Saya kira pendapat ini disepakati juga oleh sebagian kecil guru. Hal ini menunjukkan ikatan emosional antara anak dan guru -sebagai orang tua- belumlah terjalin dengan harmonis. Apa lagi jika seorang guru beranggapan siswa tidak akan belajar darinya ketika berada di luar kelas. Tentu itu adalah kekeliruan yang besar.

Oleh karena itu, tugas pembentukan karakter siswa sudah saatnya kita panggul lagi. Kita-semua guru dari mata pelajaran apapun- sudah saatnya mengambil lagi tugas kita untuk bersama-sama mendidik, menata mozaik karakter anak didik sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Ikatan emosional kita sebagai "orang tua" harus lebih terjalin dengan erat. Boleh kita tidak hafal dengan nama anak-anak didik kita karena jumlahnya yang banyak, tetapi kita tidak boleh lupa dengan status kita sebagai orang tua mereka. Seorang pakar pendidikan mengatakan ' . maka sesungguhnya orangtua itu adalah penyebab wujudnya yang sekarang dan hidup fana. Sedangkan guru itu merupakan penyebab hidup yang kekal'. Pakar pendidikan ini adalah Imam al Gazali.

Seorang guru -tidak hanya guru agama- adalah seorang pemberi petunjuk, dalam hymne guru disebutkan "engkau sebagai pelita dalam kegelapan". Petunjuk yang diberikan guru adalah petunjuk hidup yang membangun karakter. Sedangkan karakter manusia seutuhnya yang utama adalah sadar sebagai mahluk Tuhan YME. Maka arah utama petunjuk guru dalam pengembangan karakter anak didik adalah petunjuk ke jalan yang mendekatkan kepada Tuhan YME. Apapun mata pelajaran yang kita sampaikan, muatan religius yang mengarahkan anak didik kepada kedekatan dengan Tuhan YME adalah sebuah keniscayaan. Sampai di mana tingkat kemampuan penyerapan siswa terhadap materi pelajaran di situ pula guru akan mengantarkan petunjuknya ke jalan mendekati Tuhan. Ini bukan berarti kita menafikan pelajaran akademis, tetapi kembali lagi kita ingat, bahwa karakter kepribadian anak -telah kita sepakati- lebih utama dari pada kepandaian tanpa karakter. Karena menunjukkan murid ke jalan Tuhan itulah Al Ghazali mengatakan Guru adalah penyebab manusia hidup yang 'kekal'.

Terakhir, sebagai bahan renungan agar kita lebih ingat tugas mulia seorang guru mari kita simak ucapan Al Ghazali berikut ini : 'Wujud yang paling mulia di permukaan bumi ini adalah jenis manusia. Dan bagian yang paling mulia dari hakekat manusia adalah hatinya. Guru bekerja menyempurnakan, membesarkan, membersihkan dan menggiring hati mendekat kepada Allah Swt. Maka pangkat yang manakah yang lebih terhormat daripada hamba itu menjadi perantara antara Tuhan dengan mahluk-Nya dan kelak akan digiringnya ke surga al Ma'wa'. Amin.

Salam.
Ibnusyahvie

KECERDASAN PLUS KARAKTER

Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ).

Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Pendidikan karakter di sekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam keluarga. Kalau seorang anak mendapatkan pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter. Selain itu Daniel Goleman juga mengatakan bahwa banyak orang tua yang gagal dalam mendidik karakter anak-anaknya entah karena kesibukan atau karena lebih mementingkan aspek kognitif anak. Namun ini semua dapat dikoreksi dengan memberikan pendidikan karakter di sekolah.

Namun masalahnya, kebijakan pendidikan di Indonesia juga lebih mementingkan aspek kecerdasan otak, dan hanya baru-baru ini saja pentingnya pendidikan budi pekerti menjadi bahan pembicaraan ramai. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia dibuat hanya cocok untuk diberikan pada 10-20 persen otak-otak terbaik. Artinya sebagian besar anak sekolah (80-90 persen) tidak dapat mengikuti kurikulum pelajaran di sekolah. Akibatnya sejak usia dini, sebagian besar anak-anak akan merasa “bodoh” karena kesulitan menyesuaikan dengan kurikulum yang ada. Ditambah lagi dengan adanya sistem ranking yang telah “memvonis” anak-anak yang tidak masuk “10 besar”, sebagai anak yang kurang pandai. Sistem seperti ini tentunya berpengaruh negatif terhadap usaha membangun karakter, dimana sejak dini anak-anak justru sudah “dibunuh” rasa percaya dirinya.

Rasa tidak mampu yang berkepanjangan yang akan membentuk pribadi yang tidak percaya diri, akan menimbulkan stress berkepanjangan. Pada usia remaja biasanya keadaan ini akan mendorong remaja berperilaku negatif. Maka, tidak heran kalau kita lihat perilaku remaja kita yang senang tawuran, terlibat kriminalitas, putus sekolah, dan menurunnya mutu lulusan SMP dan SMU.

Jadi, pendidikan karakter atau budi pekerti plus adalah suatu yang urgent untuk dilakukan. Kalau kita peduli untuk meningkatkan mutu lulusan SD, SMP dan SMU, maka tanpa pendidikan karakter adalah usaha yang sia-sia. Kami ingin mengutip kata-kata bijak dari pemikir besar dunia. Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character”(pendidikan tanpa karakter). Dr. Martin Luther King juga pernah berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).